
SOSIALISASI dan EDUKATIF : Pengelolaan Limbah Organik dan Pemanenan air hujan serta Optimalisasi Pemberdayaan UMKM di Kelurahan Kaligawe oleh Mahasiswa KKN-T IDBU-61 Kelompok 1 UNDIP.
- Kegiatan sosialisasi pertama dengan tema: “Kaligawe sebagai Ekosistem Berkelanjutan: “Sinergi Masyarakat dan Lingkungan dalam Mewujudkan Kawasan yang Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” dilaksanakan pada Kamis, 16 Juli 2026
- Kegiatan sosialisasi kedua dengan tema: “Sosialisasi Rumah Produksi UMKM Adaptif Terhadap Banjir” dilaksanakan pada Kamis. 30 Juli 2026
Kelurahan Kaligawe terletak di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah. Berbatasan langsung dengan Sungai Banjir Kanal Timur di bagian barat, Kelurahan ini sering terdampak banjir dikarenakan luapan air yang terjadi disebabkan curah hujan tinggi, buruknya sistem drainase, dan pengolahan sampah yang kurang baik. Hal ini juga diperkuat saat survei dan wawancara bersama dengan ketua RW 01 yang mengkonfirmasi bahwa masih sering terjadi banjir ketika curah hujan sedang tinggi.
Mahasiswa dari KKN UNDIP IDBU-61 Kelompok 1 memberikan solusi untuk membuat Komposter sebagai bentuk dari pengolahan sampah yang bisa dimanfaatkan kembali bagi lingkungan dan penyuluhan edukatif terkait PAH (Pemanenan Air Hujan) sebagai bentuk edukasi terkait permasalahan banjir.
- Sosialisasi KOMPOSTER & PAH
Sosialisasi terkait pengolahan sampah menjadi kompos dengan komposter sebagai alat implementasi dan edukasi terkait Pemanenan Air Hujan (PAH) dilakukan pada tanggal 16 Juli 2026, berikut beberapa solusi yang dipaparkan.
- Sosialisasi Penggunaan alat Komposter
Pemaparan ini disampaikan oleh 5 mahasiswa yaitu Fakhri Naufal Khalish (Rekayasa Perancangan Mekanik), Alfian Sembiring (Arsitektur), Dinda Pradjna Widha (Arsitektur), Fernando Endarson Sitanggang (Teknik Industri), dan Ajeng Binasih Handayani (Informasi dan Humas). Pemaparan dimulai dari bagaimana cara membuat alat komposter yang berbahan dasar material galon Le Minerale bekas dan bahan pendukung yaitu arang sekam sebagai pondasi, EM 4 dan molase sebagai bahan aktivator untuk menghasilkan pupuk. Papan pendukung juga dibuat untuk menaruh komposter untuk mendukung penempatan komposter agar tidak langsung terkena banjir jika musim hujan, selain itu juga sebagai tempat informasi penanda untuk peta desa dan SOP Komposter, papan pendukung ini dibuat dari pipa paralon dengan mempertimbangkan faktor estetika, fungsi, dan ergonomis. Kampanye tentang kompos juga dilakukan untuk mengedukasi warga terkait kompos apa saja yang cocok untuk diolah menjadi pupuk, kampanye dilakukan melalui media komunikasi visual dan atraktif sehingga warga yang membawa anak pun juga dapat memahami dengan mudah apa yang disampaikan.
Berikut adalah SOP terkait pengoperasian dan perawatan komposter
- Pemilahan sampah dan pencacahan sampah harus dilakukan. Sampah yang cocok dibuat kompos adalah sampah organik yang dicacah 2-5 cm agar lebih gampang terurai.
- Campuan EM 4 dan Molase, dua bahan ini perlu dicampur agar bioaktivator nya menyala.
- Urutan pengisian juga harus benar yaitu pertama arang sekam, sampah yang sudah dicacah, dan campuran EM4 dan Molase
- Penutupan dan perawatan, komposter perlu ditutup tidak terlalu rapat agar tetap masuk udara sehingga terjaga kelembabannya, selain itu perlu terhindar langsung dari air dan cahaya matahari secara langsung agar tidak cepat membusuk.
- Pemanenan kompos. Pupuk kompos dari hasil alat komposter umumnya siap dipanen setelah 30-60 hari.
- Sosialisasi PAH (Pemanenan Air Hujan)
Pemaparan ini disampaikan oleh 5 mahasiswa yakni Asri Br Gultom (Hukum), Elisabeth Vlara Danita A.S (Akuntansi), Atalia Maharani Dewi Arianto (Teknik Geologi), Faiz Ridlo Nurhidayat (Teknik Sipil), dan Baginda Marasorik A.S (Teknik Perkapalan). Isi paparan terkait komponen dasar PAH yakni bagaimana penangkapan air hujan, pengiriman, dan penyimpanan air hujan yang baik, kemudian dilanjut dengan perakitan sederhana dan prinsip kerja alat PAH, Selain itu pemilihan material komponen untuk membuat PAH juga ditampilkan, agar warga terutama bapak-bapak memiliki visualisasi terkait prinsip kerja alat PAH tersebut.
Cakupan hukum terkait PAH juga dijelaskan sebagai edukasi bagi warga agar tetap sesuai dengan hukum pengelolaan yang ada di Kelurahan Kaligawe. Nilai ekonomi terkait PAH dibahas sebagai potensi penghematan penggunaan air bersih, untuk membandingkan penghematan dengan air PDAM ataupun air sumur. Seluruh edukasi memiliki satu luaran yaitu booklet yang berisi informasi terkait alat kerja, cara kerja, pemilihan material, nilai hukum dan nilai ekonomi untuk disebarkan kepada warga.
- Sosialisasi UMKM
Program kedua yang dilakukan oleh mahasiswa KKN IDBU-61 kelompok 1 yakni terkait potensi UMKM yang ada di Kelurahan Kaligawe ini. Banyaknya UMKM yang terlihat dan tersebar di daerah Kelurahan Kaligawe menjadi salah satu hal yang berpotensi untuk dikembangkan, hal ini kembali dikonfirmasi oleh ketua RW 01 dan RW 02 ketika para mahasiswa berdiskusi dan berdiskusi terkait potensi UMKM yang ada di Kelurahan Kaligawe. Sehingga mahasiswa KKN terjun dan survei langsung untuk menghampiri beberapa UMKM untuk melihat potensi mereka dan membantu memajukan usaha mereka. Sosialisasi rumah produksi UMKM adaptif terhadap banjir dilakukan pada tanggal 30 Juli 2026, berikut beberapa edukasi yang diberikan:
- Sosialisasi terkait pelaku UMKM
Pembahasan yang dilakukan adalah yang pertama terkait K3 yaitu Keselamatan, Kesehatan, tenaga Kerja dimana pelaku UMKM diberikan edukasi terkait parameter K3 yang sesuai dengan standar yang ada sehingga para pelaku UMKM lebih sadar dengan keselamatan dan kesehatan mereka ketika bekerja. Kedua adanya edukasi terkait pemilihan material tahan korosi untuk fasilitas UMKM dan bagaimana perawatan material tersebut agar tahan lama. Ketiga adanya edukasi terkait alat filtrasi air sederhana yang dapat dibuat dirumah sebagai langkah preventif dalam meningkatkan kualitas operasional pada UMKM yang ada di Kelurahan Kaligawe.
Keempat yaitu edukasi terkait Harga Pokok Produksi (HPP) kepada para pelaku UMKM, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa usaha yang mereka jalankan memberikan keuntungan yang memang sesuai dengan seluruh biaya produksi yang sudah dilakukan. Kelima yaitu edukasi terkait perancangan rumah adaptif banjir dengan cara memperhatikan material dan ketahanan struktur terkait rumah rumah yang memproduksi UMKM agar adaptif terhadap banjir.
- Sosialisasi terkait memajukan usaha UMKM
Dari banyak nya survei UMKM yang kami datangi, ada satu yang sangat berpotensial untuk dimajukan dan dibantu yaitu “Adelia Snack.” UMKM ini bergerak di bidang FnB dengan produk jualan berbagai macam kue (kue lebaran, kue ulang tahun, macam roti, dan macam kue tradisional) dengan Ibu Reni selaku pemilik usaha “Adelia Snack” ini kami berdiskusi dan sepakat untuk melakukan rebranding logo sesuai dengan logo dengan dasar logo eksisting, membuatkan standing banner agar Ibu Reni lebih mudah ketika mengikuti bazar UMKM yang diadakan setiap bulan oleh kelurahan, pembuatan QRIS juga dilakukan untuk mempermudah transaksi pelaku usaha dengan konsumen, selain itu dilakukan juga pendaftaran usaha di e-commerce seperti shopeefood untuk memperluas jangkauan usaha beliau, dan yang terakhir adanya pendampingan dan edukasi terkait bagaimana mempromosikan usaha lewat sosial media agar mendukung identitas usaha melalui digital branding.
Penulis: Dinda Pradjna Widha
LAMPIRAN
Sosialisasi 1: “Kaligawe sebagai Ekosistem Berkelanjutan: “Sinergi Masyarakat dan Lingkungan dalam Mewujudkan Kawasan yang Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan”
Sosialisasi 2: “Sosialisasi Rumah Produksi UMKM Adaptif Terhadap Banjir”
Penyerahan Ouput kepada Ibu Reni selaku pemilik usaha “Adelia Snack”














