Mahasiswa kenalkan pengelolaan sampah dengan metode aerob dan anaerob kepada warga Kelurahan Kalibening
Jatengx.com, Salatiga – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Tahun 2026 melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengolahan sampah organik metode aerob bagi warga Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, pada pertengahan Juli 2026 atau minggu kedua pelaksanaan KKN yang dimulai sejak (9/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Multidisiplin 1 berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Kalibening Terhadap Pengolahan Sampah dan Konservasi Air Tanah.”
Hal tersebut menjadi salah satu hal yang dikenalkan mahasiswa KKN kepada masyarakat Kelurahan Kalibening melalui kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik rumah tangga.

Sosialisasi dilakukan di berbagai kegiatan masyarakat, seperti Dawis, PKK, senam, pertemuan RT/RW, dan kerja bakti. Pemilihan berbagai kegiatan masyarakat sebagai lokasi edukasi dilakukan agar pembahasan mengenai pengelolaan sampah dapat disampaikan dalam ruang yang dekat dengan aktivitas sehari-hari warga.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat terlebih dahulu diajak untuk memahami pentingnya memilah sampah dari sumbernya. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan dipisahkan sebelum dibuang, sehingga tidak semua sampah rumah tangga berakhir dalam satu tempat.
Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah pembuatan kompos aerob menggunakan galon bekas. Galon Le Minerale berukuran 15 liter dimanfaatkan sebagai komposter sederhana. Bagian atas galon dipotong dan bagian samping serta bawah diberi lubang agar udara dapat masuk dan proses pengomposan berlangsung secara aerob.
Bahan kemudian disusun secara berlapis di dalam galon, mulai dari tanah, sekam padi, daun kering, sisa organik, dan tanah. Susunan tersebut dapat diulangi apabila bahan yang tersedia masih banyak. Bahan kemudian disemprot dengan larutan aktivator dari air cucian beras dan gula secukupnya untuk menjaga kelembapan. Komposter tidak boleh terlalu basah.
Karena membutuhkan oksigen, kompos aerob perlu diaduk setiap beberapa hari agar udara dapat masuk dan bahan tercampur secara merata. Setelah proses berlangsung selama beberapa minggu, bahan akan berubah menjadi kompos yang lebih gelap, gembur, dan memiliki aroma seperti tanah.
Selain metode aerob, masyarakat juga dikenalkan dengan kompos anaerob atau bokashi. Galon yang digunakan tidak diberi lubang dan ditutup rapat agar proses fermentasi berlangsung dalam kondisi minim oksigen.
Bahan yang digunakan berupa sisa sayuran, kulit buah, dan cangkang telur yang telah dihancurkan. Bahan dimasukkan ke dalam galon secara bertahap, kemudian disemprot dengan larutan aktivator yang terdiri dari air, EM4, dan molase atau gula merah. Ketika terdapat sisa organik baru, bahan dapat kembali dimasukkan dan diberi larutan aktivator secukupnya.
Dalam praktiknya, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai bahan yang sebaiknya tidak dimasukkan. Sisa makanan seperti nasi, lauk, minyak, tulang, dan makanan sejenisnya tidak digunakan dalam pengolahan bokashi yang diperkenalkan karena dapat meningkatkan risiko bau, munculnya lalat, dan mengganggu proses fermentasi.
Dua metode tersebut diperkenalkan sebagai pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi rumah. Kompos aerob memanfaatkan sirkulasi udara dan bahan organik yang disusun dalam komposter berlubang.
Sedangkan bokashi menggunakan wadah tertutup dan proses fermentasi dengan bantuan EM4. Dengan menggunakan galon bekas dan bahan yang mudah ditemukan, masyarakat tidak harus membeli peralatan khusus untuk mulai mengolah sampah.
Pengolahan sampah juga tidak berhenti pada sampah organik. Minyak jelantah yang berasal dari kegiatan memasak turut diperkenalkan sebagai limbah yang perlu dipisahkan dan tidak dibuang langsung ke saluran air. Minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali melalui pengolahan menjadi sabun.
Melalui kegiatan yang dilakukan di berbagai kelompok dan aktivitas masyarakat tersebut, mahasiswa KKN berusaha menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus rumit dan tidak harus menunggu adanya fasilitas besar. Dengan memilah sampah sejak dari rumah dan memanfaatkan barang bekas sebagai wadah, masyarakat sudah dapat mengambil bagian dalam mengurangi sampah yang dibuang.
Lebih dari sekadar membuat kompos atau mengolah minyak jelantah, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru di masyarakat. Sampah dipilah, yang masih bisa dimanfaatkan diolah, dan yang memang tidak dapat digunakan baru dibuang.
Dengan langkah sederhana yang dimulai dari rumah, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi pekerjaan tambahan yang merepotkan, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Kalibening.
Penulis/Reporter: Ilyasa Husein, Rahel Silaban, Kania Arfiani Rizka
Fotografer: Muhammad Salman Tyastomo
Lokasi : Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga
Program : Tim II KKN-R Universitas Diponegoro Kelurahan Kalibening
Kontak Media : kknkalibening2026@gmail.com (Email) | @napakjejakkalibening (Instagram) | @napakjejakkalibening (TikTok)
Editor: Azis



