Mahasiswa UNDIP Gelar Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Minyak Esensial dari Sereh Wang
Jatengx.com, Sragen — Tanaman sereh wangi yang tumbuh di pekarangan dan lahan warga Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, mulai dilirik sebagai bahan baku produk bernilai tambah. Melalui program pelatihan dan pendampingan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro mengenalkan pengolahan sereh wangi menjadi minyak esensial kepada kelompok ibu-ibu PKK dan pemuda Karang Taruna.
Program bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Minyak Esensial dari Sereh Wangi” tersebut merupakan program kerja monodisiplin KKN yang disusun oleh Irsyad Syaddad Satrianto, mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro.
Kegiatan tersebut berangkat dari potensi tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus) yang cukup melimpah di Desa Bendungan. Selama ini, pemanfaatan tanaman tersebut masih terbatas sebagai bumbu dapur atau dibiarkan tumbuh tanpa pengolahan lebih lanjut.
Padahal, sereh wangi dapat diolah melalui proses penyulingan atau distilasi untuk menghasilkan minyak esensial. Minyak tersebut mengandung senyawa seperti sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang memiliki beragam potensi pemanfaatan.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada proses pengolahan sereh wangi dari bahan baku hingga menjadi produk yang siap dikemas.
Dari Pekarangan ke Produk Bernilai Tambah
Rangkaian pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai potensi sereh wangi sebagai komoditas yang dapat dikembangkan. Peserta kemudian mengikuti praktik pengolahan secara langsung.
Tahap pertama adalah persiapan bahan baku. Daun dan batang sereh wangi dipanen, dilayukan, kemudian dirajang. Tahapan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan bahan sebelum memasuki proses penyulingan.
Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan proses penyulingan atau distilasi menggunakan alat sederhana. Metode yang dikenalkan meliputi penyulingan dengan uap dan air yang dapat direplikasi dalam skala rumah tangga.
Setelah penyulingan, minyak esensial dipisahkan dari hidrosol, yakni air hasil penyulingan. Minyak yang diperoleh kemudian disiapkan untuk dikemas menggunakan botol, termasuk botol jenis dropper glass, dan diberi label agar lebih siap diperkenalkan sebagai produk.
Proses tersebut memperlihatkan kepada peserta bahwa sereh wangi yang tumbuh di sekitar rumah tidak harus berhenti sebagai tanaman pekarangan. Dengan pengolahan dan keterampilan yang tepat, tanaman tersebut dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.
“Dari harumnya keanekaragaman hayati desa, terbit pendar kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.”
Mendorong Peluang Usaha Masyarakat
Pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis penyulingan. Peserta juga diperkenalkan pada pengemasan dan branding sebagai bagian dari persiapan pengembangan produk.
Bagi masyarakat Desa Bendungan, pengolahan sereh wangi menjadi minyak esensial membuka peluang pemanfaatan potensi lokal secara lebih optimal. Tanaman yang sebelumnya digunakan secara terbatas dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Minyak esensial sereh wangi juga memiliki sejumlah potensi pemanfaatan, antara lain sebagai bahan alami penolak serangga, aromaterapi, serta bahan dalam produk sanitasi tertentu.
Selain minyak, hidrosol yang dihasilkan dari proses penyulingan juga dapat dimanfaatkan sebagai produk turunan.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi kelompok PKK dan Karang Taruna untuk mengembangkan rintisan usaha bersama berbasis sumber daya lokal.
Program ini sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa pengembangan UMKM desa dapat dimulai dari komoditas yang tersedia di sekitar masyarakat. Dengan teknologi tepat guna yang relatif sederhana, potensi tanaman lokal dapat diarahkan menjadi produk yang lebih bernilai.
Selaras dengan Pembangunan Berkelanjutan
Pemanfaatan sereh wangi menjadi minyak esensial juga berkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).
Program tersebut mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengenalan potensi minyak esensial sereh wangi sebagai bahan alami penolak nyamuk dan aromaterapi.
Dari sisi ekonomi, kegiatan berkaitan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Keterampilan ekstraksi minyak esensial diharapkan dapat menjadi salah satu dasar pengembangan unit usaha atau UMKM skala rumah tangga.
Program ini juga sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan bahan hayati lokal secara lebih optimal. Sementara itu, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan tercermin dalam dorongan untuk membudidayakan dan memanfaatkan sereh wangi secara berkelanjutan.
Dalam kerangka empat pilar pengabdian Universitas Diponegoro, kegiatan tersebut mencakup aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.
Pada aspek lingkungan, masyarakat didorong memanfaatkan biomassa tanaman secara optimal dan mengembangkan budidaya sereh wangi secara berkelanjutan. Dari sisi sosial, kegiatan melibatkan PKK dan Karang Taruna dalam inovasi berbasis masyarakat.
Aspek ekonomi diwujudkan melalui upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal menjadi produk minyak esensial. Adapun dari sisi budaya, pemanfaatan tanaman herbal lokal dipadukan dengan pengetahuan dan teknologi pengolahan modern.
Pelatihan dan pendampingan tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan potensi pertanian lokal dengan keterampilan pengolahan dan peluang ekonomi. Sereh wangi yang tumbuh di sekitar rumah warga tidak hanya dipandang sebagai tanaman, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, masyarakat Desa Bendungan diharapkan dapat mengembangkan keterampilan pengolahan sereh wangi sekaligus membangun peluang usaha berbasis potensi lokal.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Bendungan, pengurus PKK, Karang Taruna, Dosen Pembimbing Lapangan KKN, serta warga Desa Bendungan yang berpartisipasi dalam pelaksanaan program.
Penulis: Irsyad Syaddad Satrianto
Editor: Azis



