Mahasiswa lakukan pendampingan pembuatan Linktree sebagai langkah Menuju Desa Digital dan Berdaya
Jatengx.com, Sragen — Upaya memperluas akses informasi publik di tingkat desa dilakukan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2025/2026 di Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Mahasiswa memberikan pendampingan digitalisasi data dan pemanfaatan perangkat teknologi untuk membantu pengelolaan informasi desa.
Salah satu bentuk pendampingan tersebut diwujudkan melalui pembuatan pusat akses informasi berbasis Linktree. Platform ini digunakan untuk menghimpun berbagai tautan penting Desa Bendungan dalam satu halaman sehingga masyarakat dapat mengakses informasi melalui telepon pintar.
Program yang berlangsung pada periode KKN, 8 Juli hingga 26 Agustus 2026, Bramantya Adi Nugroho merancang program ini untuk membantu perangkat desa menata informasi secara lebih terstruktur sekaligus meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.
“Digitalisasi ini dirancang sebagai langkah sederhana untuk membantu perangkat desa mengelola informasi secara lebih teratur. Melalui satu pusat akses, masyarakat diharapkan dapat menemukan berbagai informasi desa dengan lebih mudah,” ujar Bramantya Adi Nugroho.
Kegiatan diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan informasi Desa Bendungan. Mahasiswa kemudian mengumpulkan dan mengelompokkan data yang akan ditampilkan sebelum menyusun kategori serta tautan informasi dalam pusat akses digital.
Sejumlah informasi yang disiapkan mencakup profil desa, layanan administrasi, direktori UMKM dan potensi lokal, media sosial serta kabar desa, hingga layanan pengaduan dan kontak layanan penting.
Pada bagian layanan administrasi, masyarakat dapat diarahkan menuju informasi mengenai persyaratan pengurusan dokumen kependudukan, jam operasional kantor desa, serta tautan layanan atau formulir yang tersedia.
Sementara itu, direktori UMKM dan potensi lokal disiapkan sebagai ruang untuk memperkenalkan produk serta usaha masyarakat. Informasi tersebut dapat dilengkapi dengan katalog produk, kontak pemesanan, dan informasi mengenai potensi ekonomi yang dimiliki desa.
Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan pusat akses informasi. Perangkat desa juga diperkenalkan pada pemanfaatan perangkat teknologi untuk mengelola, memperbarui, dan menyebarkan informasi secara digital.
“Yang menjadi perhatian bukan hanya membuat platform, tetapi juga bagaimana perangkat desa dapat melanjutkan pengelolaannya. Informasi yang tersedia perlu diperbarui secara berkala agar tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Bramantya Adi Nugroho.
Dengan sistem tersebut, pembaruan informasi dapat dilakukan secara lebih terstruktur. Masyarakat juga memiliki satu pintu akses untuk menemukan berbagai informasi yang berkaitan dengan Desa Bendungan.
Digitalisasi informasi di tingkat desa dinilai memiliki manfaat yang lebih luas. Selain membantu penyampaian informasi publik, pemanfaatan media digital dapat mendukung komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat serta membuka ruang promosi bagi UMKM dan potensi lokal.
Bagi masyarakat, kemudahan akses menjadi salah satu manfaat yang diharapkan dari program tersebut. Informasi yang sebelumnya dapat tersebar pada sejumlah media diarahkan ke satu pusat akses yang dapat dibuka melalui telepon pintar.
“Harapannya, masyarakat tidak perlu mencari informasi melalui banyak saluran. Cukup melalui satu tautan, berbagai informasi penting desa dapat ditemukan dan diakses dengan lebih praktis,” demikian tujuan yang hendak dicapai melalui pengembangan pusat informasi digital tersebut.
Program ini juga berkaitan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur; SDG 11 mengenai kota dan permukiman yang berkelanjutan; SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; serta SDG 16 mengenai perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.
Keterkaitan dengan SDG 9 terlihat melalui penerapan inovasi teknologi sederhana untuk mengintegrasikan akses informasi desa. Sementara itu, promosi UMKM dan potensi lokal melalui media digital mendukung tujuan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat sebagaimana tercermin dalam SDG 8.
Dari sisi pengabdian, program tersebut juga mencakup aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Pemanfaatan media digital dapat mengurangi ketergantungan pada media informasi berbasis kertas. Pada saat yang sama, pendampingan turut mendorong peningkatan literasi digital perangkat desa dan membantu memperkenalkan potensi lokal melalui ruang digital.
Meski demikian, keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pemanfaatan pusat informasi digital tersebut. Setelah pendampingan berakhir, perangkat desa perlu melakukan pembaruan data dan tautan secara berkala agar informasi yang tersedia tetap akurat dan dapat digunakan masyarakat.
“Keberlanjutan program sangat bergantung pada pengelolaan setelah pendampingan selesai. Karena itu, kemampuan perangkat desa untuk memperbarui informasi secara mandiri menjadi bagian penting dari tujuan program ini,” ungkap mahasiswa Rekayasa Perancangan Mekanik
Melalui pendampingan ini, digitalisasi diharapkan tidak berhenti sebagai penggunaan teknologi baru, tetapi berkembang menjadi bagian dari pengelolaan informasi desa sehari-hari. Langkah sederhana melalui satu pusat akses digital diharapkan dapat membantu Desa Bendungan menuju tata kelola informasi yang lebih terhubung, terbuka, dan mudah diakses.
“Satu tautan, banyak informasi; dari digitalisasi data menuju desa yang lebih terhubung dan berdaya.” jargon yang dibuat Bramantya Adi Nugroho
Program pendampingan digitalisasi data dan penggunaan perangkat teknologi tersebut terlaksana dengan dukungan Pemerintah Desa Bendungan, perangkat desa, masyarakat, Dosen Pembimbing Lapangan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2025/2026.
Penulis: Bramantya Adi Nugroho
Editor: Azis



