Dokumentasi Mahasiswa bersama Peserta Kelas UMKM
Jatengx.com, Klaten – Gedung PKK Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari pada Selasa (28/7) lebih ramai dari biasanya. Tim KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro tengah menggelar Kelas UMKM Desa Teloyo yang dihadiri sekitar 45 peserta duduk berjajar dengan buku catatan dan ponsel di tangan sejak pukul empat sore.
Kelas ini hadir menggunakan pendekatan pembinaan yang holistik dengan membuka akses terhadap keterampilan baru bagi pelaku UMKM Teloyo, mencakup tata kelola keuangan, strategi pemasaran modern, penguatan legalitas, serta adaptasi transaksi nontunai. Keempat pilar tersebut mendasari desain program lintas bidang, agar pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada satu aspek, melainkan mendorong pengembangan usaha secara menyeluruh.
Acara dibuka dengan doa dan lagu Indonesia Raya. Sebelum sambutan, MC memperkenalkan jargon “Sesarengan Berkarya, Teloyo Jaya” yang langsung disambut riuh oleh peserta dan panitia. Jargon ini merupakan unsur penting karena menunjukkan tekad bersama untuk menggerakkan potensi UMKM Teloyo, dengan harapan setiap karya yang lahir dari desa ini dapat membawa Teloyo menuju kemakmuran yang lebih baik.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pak Purwanto, S.H. selaku Kepala Desa Teloyo. Dalam sambutannya, Pak Purwanto menyampaikan pesan-pesan motivasi dan penguatan bagi para pelaku UMKM yang hadir, mendorong mereka untuk terus berkembang.
Sesi inti diisi lima mahasiswa dari Tim KKN-R Universitas Diponegoro Desa Teloyo yang membawakan materi secara bergantian dengan durasi maksimal 15 menit untuk menyampaikan masing-masing dari lima bidang keahlian yang saling melengkapi yaitu penguatan mental wirausaha, legalitas usaha, strategi pengembangan UMKM dengan metode Business Model Canvas, branding dan promosi sederhana untuk UMKM, serta pentingnya sistem pembayaran digital yaitu QRIS.
Koordinator Desa mengungkapkan penyampaian materi lintas bidang yang dirancang dalam satu kegiatan dapat memberikan pengetahuan secara utuh kepada peserta, mulai dari membangun mental hingga pemanfaatan teknologi di sektor perdagangan.
“Kombinasi lima topik ini sengaja dirancang agar peserta mendapat gambaran utuh mengelola usaha dari berbagai aspek, mulai dari membangun mental usaha yang tangguh, memahami model bisnisnya sendiri lewat Business Model Canvas, mengurus legalitas dan identitas usaha, membangun branding sederhana, sampai mengenal QRIS sebagai alat transaksi,” ungkapnya.
Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, dikaitkan langsung dengan pengalaman sehari-hari pelaku usaha kecil di desa. Sinergitas materi ini ditujukan untuk membangun pemahaman yang menyeluruh terhadap mekanisme-mekanisme solutif dalam menguatkan UMKM.

Antusiasme peserta terlihat jelas begitu sesi tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan yang disampaikan benar-benar mencerminkan antusiasme peserta dalam memahami materi yang dibawakan seperti pertanyaan kritis mengenai mengapa harus mendapatkan identitas resmi usaha, bagaimana mendapatkan pendanaan usaha resmi, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu menggambarkan bahwa peserta tidak sekadar hadir mendengarkan, tetapi menghadapi persoalan konkret dalam menjalankan usaha mereka sehari-hari.
Usai sesi tanya jawab, tim KKN membuka penawaran pendampingan pembuatan QRIS bagi peserta yang berminat, difasilitasi Amalia, salah satu anggota tim. Langkah ini menjadi tindak lanjut dari materi soal pentingnya QRIS yang telah disampaikan sebelumnya dengan memberi peserta jalan konkret jika ingin langsung mempraktikkan apa yang baru mereka pelajari, sekaligus pengingat bahwa adaptasi transaksi digital belakangan makin menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan, bagi usaha kecil.
Salah satu peserta, Ibu Rani, pemilik usaha Bebek Goreng Spesial “Bu Hj. Siti Nurani” di Desa Teloyo, mengaku program ini datang di waktu yang tepat.
“UMKM lagi gencar-gencarnya. Ini bisa membantu mengangkat ekonomi masyarakat,” katanya, mewakili PKK dan pelaku UMKM desa. “Program kerja ini bagus sekali. Alhamdulillah, sudah diberikan motivasi dari beberapa fakultas Undip. Saya atas nama PKK dan masyarakat atau UMKM mengucapkan terima kasih. Semoga Undip tetap jaya dan alumni-alumninya bisa sukses semua,” tuturnya
Acara kemudian ditutup dengan doa, ucapan terima kasih kepada peserta, dan sesi foto bersama.
Kelas UMKM Desa Teloyo memberikan bekal konkret bagi para peserta yang hadir. Masyarakat membawa pulang mental usaha yang lebih matang, pengetahuan memetakan model bisnis lewat Business Model Canvas, urgensi legalitas usaha, kemampuan branding sederhana, dan kesiapan beralih ke pembayaran digital.
Tim KKN berharap program lanjutan tetap berjalan setelah masa penugasan mereka berakhir. Dengan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah desa dan lembaga terkait, langkah kecil sore itu di Teloyo tidak berhenti sebagai satu pertemuan, tetapi menjadi jejak pembangunan UMKM Desa Teloyo yang simultan hingga masa mendatang.
Penulis: Tim KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro
Editor: Azis



