Serah terima amanah kepemimpinan, Sri Wahyu Susilowati sebagai Kepala MTs Ma’arif Sapuran
Jatengx.com, Wonosobo – Estafet kepemimpinan di MTs Ma’arif Sapuran, Wonosobo, berlanjut. Sri Wahyu Susilowati, S.Pd. resmi dilantik sebagai kepala madrasah pada Sabtu, 1 Agustus 2026, menggantikan Arif Muchtar, S.E. yang telah menuntaskan dua periode kepemimpinan selama delapan tahun.
Pelantikan berlangsung di lingkungan MTs Ma’arif Sapuran dan dihadiri sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama, unsur Kementerian Agama, pengawas madrasah, pengurus LP Ma’arif NU, guru, tenaga kependidikan, serta tamu undangan.
Di antara yang hadir adalah Rois Syuriah MWCNU Sapuran KH Yahya, Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo Edi Rohani, M.Pd.I., Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo Ismail, M.Pd., Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo Mukhtarudin, S.Ag., Ketua LP Ma’arif MWCNU Sapuran KH Khozin, S.Ag., serta Ketua BP3MNU MTs Ma’arif Sapuran Drs. H. Ludiyanto, M.Pd.
Arif Muchtar dalam sambutan perpisahannya meminta maaf kepada keluarga besar madrasah atas kekurangan selama menjalankan amanah. Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya selama delapan tahun memimpin madrasah.
“Terima kasih atas kebersamaan dan dukungan semua pihak selama saya berkhidmah. Mohon maaf apabila selama menjalankan amanah masih banyak kekurangan,” kata Arif.
Kepemimpinan kemudian diserahkan kepada Sri Wahyu Susilowati. Kepala madrasah baru itu meminta doa, dukungan, dan bimbingan seluruh keluarga besar MTs Ma’arif Sapuran.
“Kami mohon bimbingan dan dukungan semua pihak untuk bersama-sama membesarkan MTs Ma’arif Sapuran. Apa yang sudah baik akan kita pertahankan, sedangkan yang masih perlu ditingkatkan akan kita benahi bersama,” ujar Sri Wahyu.
Ia mengatakan kemajuan madrasah membutuhkan kerja bersama. Karena itu, seluruh unsur madrasah diajak mempertahankan capaian yang telah ada sekaligus memperbaiki berbagai hal yang masih perlu ditingkatkan.
Madrasah sebagai Aset NU
Rois Syuriah MWCNU Sapuran KH Yahya dalam tausiyahnya mengingatkan posisi strategis MTs Ma’arif sebagai bagian dari aset kelembagaan Nahdlatul Ulama. Menurut dia, madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga memiliki peran dalam menyiapkan kader NU di masa mendatang.
“MTs Ma’arif adalah aset kelembagaan NU yang dipersiapkan untuk menggodok kader-kader NU di masa mendatang,” kata KH Yahya.
Karena itu, kata dia, lembaga pendidikan Ma’arif perlu menjaga keterikatan dengan nilai-nilai dan perjuangan Nahdlatul Ulama. Identitas Ma’arif, menurut dia, tidak semestinya berhenti pada aspek administratif.
“Jangan sampai Ma’arif hanya dianggap sebagai payung administrasi, sementara secara kebijakan tidak memiliki ikatan ideologis dengan NU,” ujarnya.
KH Yahya juga mendorong MTs Ma’arif Sapuran untuk terus mengembangkan kualitas dan memperluas jangkauan layanan pendidikan. Madrasah, kata dia, tidak boleh berpuas diri dengan capaian saat ini.
Ia mengingatkan bahwa MTs Ma’arif Sapuran merupakan bagian dari sejarah perjuangan tokoh-tokoh NU di Kecamatan Sapuran. Madrasah tersebut berdiri pada 1976 dan kini berkembang dengan jumlah peserta didik sekitar 500 siswa.
“Harapannya, MTs Ma’arif benar-benar menjadi aset NU yang terus tumbuh dan berkembang,” kata KH Yahya.
Lima Amanah Kepala Madrasah
Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo Edi Rohani mengapresiasi pengabdian Arif Muchtar selama dua periode. Ia menilai delapan tahun kepemimpinan Arif telah ikut mengantarkan MTs Ma’arif Sapuran menjadi madrasah yang terus berkembang.
“Kami mengucapkan terima kasih atas khidmah dan pengabdian Bapak Arif Muchtar selama delapan tahun memimpin MTs Ma’arif Sapuran,” ujar Edi.
Kepada Sri Wahyu Susilowati, Edi berpesan agar estafet kepemimpinan diteruskan dengan semangat kebersamaan. Ia menilai tantangan pengelolaan madrasah tidak ringan, sehingga kekompakan seluruh warga madrasah menjadi modal penting.
“Selama cita-cita tetap dijaga dan seluruh keluarga besar madrasah guyub, rukun, kompak, serta menjadi satu tubuh yang utuh, insyaallah tidak ada yang tidak bisa diwujudkan,” katanya.
Edi menyebut ada lima amanah utama yang perlu menjadi perhatian kepala MTs Ma’arif. Pertama, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kedua, meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga, memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh warga madrasah.
Keempat, memperkuat tata kelola organisasi secara profesional dan membangun sinergi dengan LP Ma’arif NU. Kelima, membangun peradaban melalui lahirnya generasi Nahdliyin yang cerdas, berkarakter, cinta tanah air, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Pelantikan Sri Wahyu Susilowati menandai babak baru kepemimpinan MTs Ma’arif Sapuran. Estafet tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mempertahankan capaian madrasah, memperkuat identitas Ma’arif, dan meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat Sapuran.
Editor: Azis



