Jatengx.com, Kab. Semarang – Sektor perikanan darat, khususnya budidaya ikan lele, selama ini menjadi salah satu pilar ekonomi bagi masyarakat di Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat. Namun, tantangan klasik yang dihadapi para pelaku usaha lokal adalah rendahnya harga jual saat panen melimpah dan minimnya inovasi produk turunan. Menjawab persoalan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menginisiasi program Fish to Cash: “Marinasi Ikan Lele” sebagai motor penggerak ekonomi kreatif masyarakat pada Rabu (18/2/2026).
Program ini dirancang bukan sebagai pendampingan personal bagi satu individu, melainkan sebagai wadah kolaborasi bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk para pelaku UMKM kuliner dan kelompok pembudidaya ikan di wilayah tersebut. Melalui visi “Fish to Cash”, mahasiswa berupaya mengubah pola pikir kolektif masyarakat dari sekadar menjual ikan mentah menjadi produsen kuliner siap saji yang memiliki nilai tawar tinggi di pasar modern.
Kegiatan “Marinasi Ikan Lele” menjadi titik temu bagi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari paguyuban perikanan, hingga warga yang baru berencana merintis bisnis kecil-kecilan. Fokus utama pelatihan yang digelar pada pertengahan pekan tersebut adalah diversifikasi produk. Mahasiswa memaparkan secara mendalam bahwa ikan lele tidak hanya bisa dijual dalam bentuk gorengan biasa di warung tenda, tetapi dapat dikemas menjadi paket nasi box premium yang higienis, bergizi, dan menarik secara visual.

Dalam sesi workshop yang berlangsung interaktif, para peserta diajarkan teknik pengolahan standar industri rumah tangga (PIRT). Hal ini mencakup teknik pembersihan ikan agar benar-benar bebas dari bau lumpur, penggunaan bumbu marinasi rempah alami yang meresap sempurna, hingga cara mempertahankan kualitas rasa (quality control) dalam produksi skala besar. Edukasi ini bertujuan agar seluruh pelaku UMKM di Kelurahan Genuk memiliki standar kualitas yang sama baiknya, sehingga wilayah ini dapat tumbuh menjadi sentra kuliner lele berkualitas yang dikenal luas.
Satu hal yang menjadi sorotan utama dalam program Fish to Cash adalah strategi pemasaran digital yang inklusif. Mahasiswa tidak hanya membantu satu pelaku usaha, melainkan memberikan pelatihan manajemen media sosial bagi kelompok-kelompok usaha masyarakat. Peserta diajarkan cara menciptakan branding kolektif, membuat konten visual produk yang menggugah selera hanya dengan menggunakan smartphone, serta cara mendaftarkan lokasi usaha di platform peta digital dan layanan pesan-antar makanan daring.
“Tantangan utama UMKM di tingkat desa adalah akses pasar dan visibilitas. Banyak warga yang memiliki kualitas masakan luar biasa, namun calon konsumen di luar desa tidak tahu cara memesannya. Lewat Fish to Cash, kami membangun ekosistem digital di mana para pelaku usaha lokal di Kelurahan Genuk bisa saling mendukung dalam pemasaran,” ujar perwakilan mahasiswa KKN Kelompok 16 UPGRIS di sela-sela kegiatan.
Respon yang datang dari warga RW setempat sangat positif. Masyarakat menilai program ini berhasil membuka cakrawala baru bahwa potensi ekonomi besar ada tepat di depan mata mereka, yakni di kolam-kolam lele yang selama ini pengolahannya masih sangat terbatas. Dengan mengubah lele mentah menjadi produk bernilai tambah seperti “Marinasi Ikan Lele”, margin keuntungan yang didapat masyarakat bisa meningkat signifikan jika dibandingkan hanya menjual ikan hidup ke tengkulak.

Salah satu tokoh masyarakat setempat menyatakan bahwa inisiatif ini membangkitkan gairah wirausaha kolektif. “Adik-adik mahasiswa memberikan semangat baru bahwa produk desa bisa bersaing dengan brand-brand kota. Sekarang, warga tidak lagi bingung bagaimana memanfaatkan hasil panen lele yang melimpah, karena sudah dibekali keterampilan untuk mengolah dan memasarkannya secara mandiri maupun berkelompok,” ungkapnya dengan bangga.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, mahasiswa KKN UPGRIS memberikan panduan analisis usaha dan simulasi perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang praktis. Hal ini sangat penting agar setiap warga yang ingin memulai atau mengembangkan usaha serupa memiliki landasan manajemen keuangan yang matang, sehingga usaha tersebut dapat terus berjalan secara berkelanjutan (sustainable).
Program Fish to Cash: “Marinasi Ikan Lele” ini diharapkan tidak berhenti saat masa penugasan mahasiswa berakhir. Inisiatif ini diproyeksikan menjadi embrio lahirnya paguyuban UMKM kuliner berbasis perikanan di Kelurahan Genuk. Dengan sinergi yang kuat antar pelaku usaha dan dukungan inovasi dari kaum akademisi, Kelurahan Genuk optimis dapat meningkatkan kesejahteraan warganya melalui optimalisasi hasil bumi dan penguatan ekonomi kreatif berbasis pangan lokal.
Editor: Azis

