Pererat Tali Silaturahmi, Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 16 Ikuti Tradisi Nyadran di Kelurahan Genuk RW 3

Jatengx.com, Kab. Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) turut serta dalam tradisi Nyadran yang digelar oleh warga Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat. Kehadiran mahasiswa dalam ritual tahunan ini menjadi wujud nyata penghormatan terhadap adat istiadat setempat sekaligus sarana mempererat hubungan antara akademisi dan masyarakat.

Tradisi Nyadran yang merupakan momen pembersihan makam leluhur sekaligus doa bersama menjelang bulan suci Ramadan ini diikuti mahasiswa dengan penuh antusias. Mahasiswa KKN bergabung bersama warga melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan makam, disusul dengan kenduri atau makan bersama sebagai simbol kerukunan dan rasa syukur.

Roy Selaku Mahasiswa KKN, mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam Nyadran memberikan perspektif baru tentang kuatnya nilai gotong royong di pedesaan.

“Kami merasa sangat terhormat bisa dilibatkan dalam tradisi ini. Nyadran bukan sekadar ritual doa, tapi juga cerminan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan antarwarga di Kelurahan Genuk. Ini adalah pelajaran sosiologi nyata bagi kami tentang cara menjaga kerukunan dan menghargai sejarah leluhur,” ujarnya.

Tokoh masyarakat setempat, Mbah Mudin dan Mbah Yasin, juga menyambut hangat keterlibatan para mahasiswa. Ia menilai, partisipasi generasi muda dalam acara adat sangat penting agar nilai-nilai luhur tidak hilang.

“Saya bangga melihat adik-adik mahasiswa tidak canggung untuk ikut membersihkan makam dan duduk lesehan bersama warga untuk kenduri. Ini menunjukkan bahwa mereka bisa menempatkan diri dan menghargai tradisi yang ada di sini. Kehadiran mereka membawa semangat positif bagi kami,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPGRIS berharap dapat terus membangun sinergi yang harmonis dengan warga hingga masa pengabdian berakhir. Partisipasi dalam Nyadran ini sekaligus mempertegas bahwa kehadiran KKN tidak hanya untuk menjalankan program kerja formal, tetapi juga untuk menyatu dengan napas budaya masyarakat setempat.

 

Editor: Azis

By Jatengx

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *