Jatengx.com, Kab. Semarang – Masalah sampah seringkali menjadi momok yang tak berkesudahan. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kerap mengalami overcapacity atau melebihi kapasitas menjadi peringatan keras bagi masyarakat. Jika TPA penuh atau ditutup, berisiko sampah menumpuk di lingkungan perumahan sehingga memicu bau busuk hingga banjir akibat saluran air yang tersumbat. Menjawab keresahan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 4 menghadirkan solusi cerdas bertajuk “Tong Ajaib” di Desa Langensari.
Program ini bertujuan mengubah paradigma warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga, bahwa sampah bukanlah sekadar kotoran, melainkan sumber daya yang salah tempat. Melalui pelatihan pengelolaan sampah organik, mahasiswa memperkenalkan alat komposter sederhana namun canggih yang dijuluki “Tong Ajaib”. Alat ini dirancang khusus untuk mengolah sisa kegiatan sehari-hari seperti sayur, kulit buah, dan nasi basi.

Keistimewaan “Tong Ajaib” ini terletak pada metode komposter 2 tingkat yang diterapkannya. Secara teknis, alat ini terdiri dari dua tong yang disusun vertikal; tong atas yang telah dilubangi berfungsi sebagai penyaring sampah padat, sementara tong bawah bertugas menampung tetesan air lindi. Di antara kedua tong tersebut dipasang sistem filter agar sampah padat tidak jatuh, namun cairan tetap bisa merembes ke bawah.
Banyak warga yang awalnya ragu karena khawatir proses pembusukan akan menimbulkan bau tidak sedap. Namun, keraguan tersebut terjawab melalui rahasia “Metode Lapis Arang” yang diajarkan.
Rio selaku koordinator program menjelaskan bahwa kunci keberhasilan “Tong Ajaib” ini ada pada pelapisan material.
“Banyak yang takut membuat kompos karena bau. Padahal, jika kita menggunakan arang setebal 3-5 cm di lapisan dasar, bau busuk akan terserap dan air lindi menjadi jernih. Ditambah lagi dengan penutup sekam padi di bagian paling atas, sirkulasi udara tetap terjaga dan lalat tidak akan bisa bertelur, sehingga bebas belatung liar,” ungkap Rio, perwakilan mahasiswa saat mendemokan alat tersebut.
Proses pengolahannya pun sangat mudah. Warga cukup memasukkan sampah organik yang sudah dipotong kecil, menyemprotkan aktivator (campuran EM4, gula, dan air), lalu menutupnya kembali dengan arang secara berulang. Hasil dari ketelatenan ini sungguh sepadan. Dalam waktu 2 hingga 4 minggu, sampah dapur yang tadinya menjijikkan berubah menjadi dua produk bernilai guna: pupuk kompos padat di bagian atas dan Pupuk Organik Cair (POC) kaya nutrisi di bagian bawah yang bisa dipanen langsung melalui kran.
Melalui inovasi “Tong Ajaib”, sampah organik yang jika dibiarkan hanya akan menghasilkan gas metana berbahaya, kini bertransformasi menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman. Warga Desa Langensari kini memiliki solusi mandiri untuk memotong aliran sampah dari sumbernya, menjadikan dapur mereka lebih bersih dan lingkungan lebih hijau.
Editor: Azis

