Jatengx.com, Pekalongan – Tim 59 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menginisiasi program penataan lingkungan strategis di Desa Jajarwayang, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Program ini difokuskan pada pemetaan titik lokasi potensial Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai solusi atas masalah genangan air dan pengelolaan sampah organik. Inisiatif ini muncul sebagai respon cepat terhadap keluhan warga mengenai infrastruktur jalan yang sering terendam saat musim hujan.
Masalah utama yang dihadapi warga Desa Jajarwayang adalah munculnya genangan air di beberapa ruas jalan lingkungan yang berulang setiap tahun. Berdasarkan observasi mahasiswa KKN Undip Tim 59, hal ini disebabkan oleh dominasi permukaan jalan yang telah tertutup aspal dan beton. Kondisi tersebut menutup akses pori-pori tanah sehingga tanah kehilangan daya resap alaminya untuk mengalirkan air hujan ke bawah permukaan. Kondisi lingkungan ini diperparah oleh sistem drainase yang belum mampu mengalirkan debit air hujan secara optimal menuju saluran pembuangan utama. Tanpa adanya titik resapan buatan, air hujan akhirnya tertahan di badan jalan dalam waktu yang cukup lama. Hal ini tidak hanya mengganggu kenyamanan mobilitas warga, tetapi juga berpotensi mempercepat kerusakan material jalan desa.
Sebagai langkah penanganan multidisiplin, Mahasiswa KKN Undip Tim 59 mengusulkan pembuatan biopori yang menawarkan manfaat ganda bagi ekosistem desa. Teknologi ini berfungsi sebagai sarana resapan air melalui lubang vertikal yang mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam tanah. Di sisi lain, lubang ini juga menjadi wadah pengolahan sampah organik seperti sisa dapur dan daun kering yang dihasilkan rumah tangga. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan diurai oleh fauna tanah menjadi kompos berkualitas tinggi secara alami. Proses pembusukan ini sekaligus merangsang pembentukan pori-pori mikro di dalam tanah yang memperlancar aliran air di masa mendatang. Dengan demikian, biopori menjadi solusi cerdas yang mengintegrasikan penanganan limbah dengan upaya konservasi air tanah.
Untuk memastikan efektivitas program, tim mahasiswa melakukan survei lapangan secara menyeluruh. Mereka menyisir setiap sudut ruas jalan desa untuk mengidentifikasi titik genangan yang paling parah dan memiliki akumulasi air tertinggi. Data tersebut kemudian diolah menjadi Peta Penentuan Lokasi Potensial Lubang Resapan Biopori yang akurat dan berbasis spasial.
Peta ini juga diproyeksikan sebagai sarana pendukung utama serta benchmark (tolok ukur) bagi program kerja Tim 59 selanjutnya. Dengan adanya peta ini, proses pembuatan dan pemasangan fisik lubang biopori yang akan dilaksanakan tim KKN memiliki acuan teknis yang solid. Langkah ini memastikan bahwa setiap intervensi fisik yang dilakukan benar-benar memberikan dampak yang terukur bagi warga.
“Program ini merupakan inisiasi awal yang sangat penting bagi keberlanjutan lingkungan desa. Dengan peta yang kami buat, pemasangan biopori ke depan akan lebih terarah karena sudah berbasis data lokasi genangan yang nyata di lapangan,” ujar salah satu anggota Tim 59 KKN Undip di Desa Jajarwayang.
“Pemetaan ini adalah benchmark kami sebelum terjun melakukan pemasangan fisik biopori. Kami ingin memastikan bahwa setiap titik yang kami gali adalah lokasi yang paling krusial untuk menangkap air hujan sekaligus mengolah sampah organik warga,” tambahnya.
“Kami berharap sinergi antara ilmu pengetahuan mahasiswa dan kebutuhan warga ini dapat membuat Desa Jajarwayang menjadi wilayah yang lebih tangguh. Semoga desa ini tidak hanya bebas dari genangan air, tetapi juga mampu mandiri dalam mengelola sampah organik rumah tangganya sendiri,” pungkasnya.
Editor: Azis

