Jatengx.com, Sragen – Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, yang dikenal dengan hamparan lahan jagungnya, kini tengah memulai langkah baru menuju pertanian ramah lingkungan. Ananda Afu Bahri Wijaya, mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Tim I KKN Undip, sukses menginisiasi program transformasi pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah lokal. Program ini berfokus pada dua inovasi krusial: pengolahan limbah batang jagung menjadi pupuk organik padat dan pembuatan pestisida nabati berbahan dasar bawang putih serta serai sebagai alternatif pengganti bahan kimia sintetis.
Dalam pelaksanaan program pertama, Ananda menyoroti permasalahan klasik petani, yaitu penumpukan limbah batang, daun, dan tongkol jagung pascapanen yang biasanya hanya dibakar dan memicu polusi udara. Melalui pendekatan disiplin ilmu Biologi, limbah tersebut diolah melalui proses dekomposisi biologis. Mengedukasi Ibu-ibu PKK Desa Kedawung mengenai teknik penguraian menggunakan inokulan bakteri dan jamur pengurai untuk memecah selulosa dan lignin pada jaringan tanaman jagung. Dengan kontrol parameter lingkungan yang presisi seperti suhu dan kelembapan, proses ini mampu mengubah limbah menjadi pupuk organik kaya nutrisi. Penggunaan pupuk ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia unsur hara, tetapi juga efektif memperbaiki struktur fisik dan biologi tanah yang selama ini jenuh akibat penggunaan pupuk kimia berlebih.
Sejalan dengan upaya penyuburan tanah, aspek perlindungan tanaman juga diperkuat melalui inovasi pestisida nabati. Memanfaatkan bahan dapur yang mudah ditemukan, emperkenalkan formulasi dari bawang putih yang mengandung senyawa aktif allicin serta serai yang kaya akan sitronela. Kedua bahan ini bekerja sebagai agen penolak (repellent) alami yang mengganggu sistem sensorik serangga hama tanpa meninggalkan residu beracun pada hasil panen. Masyarakat diajarkan metode ekstraksi sederhana melalui teknik maserasi atau perendaman, yang memungkinkan ekstraksi senyawa aktif secara maksimal namun tetap praktis dilakukan di skala rumah tangga. Inovasi ini memberikan angin segar bagi ekonomi warga karena mampu menekan biaya operasional pembelian pestisida pabrikan.
Sebagai penutup rangkaian program, pada sesi monitoring yang dilaksanakan tanggal 3 Februari 2026, dilakukan edukasi intensif mengenai standarisasi produk dan teknik aplikasi lapangan. Mendemonstrasikan cara penggunaan pupuk dan penyemprotan pestisida yang efektif untuk memastikan tanaman tumbuh subur sekaligus terproteksi dari serangan hama. Luaran program berupa produk fisik, panduan teknis, dan poster edukasi diserahkan secara simbolis kepada penggerak PKK Desa Kedawung. Melalui sinergi ilmu pengetahuan dan potensi lokal ini, diharapkan Desa Kedawung dapat bertransformasi menjadi desa mandiri pertanian yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan kelestarian ekosistem.
Editor : Azis

