Percantik Watu Lumpang, Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 16 Integrasikan Penataan Fisik dan Strategi Promosi Digital

Jatengx.com, Kab. Semarang – Potensi wisata sejarah dan alam di Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, kini memiliki wajah baru yang lebih segar dan tertata. Melalui inisiatif kreatif, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan program revitalisasi di situs Watu Lumpang pada Jumat (13/2/2026).

Program ini tidak hanya menyasar pada pembenahan fisik lokasi, tetapi juga merambah pada optimalisasi promosi digital guna menarik minat generasi muda dan wisatawan dari luar daerah.

Watu Lumpang, yang dikenal dengan air sumber langsung yang terus mengalir dan suasana alam yang asri, kini tampil lebih estetik setelah mendapatkan sentuhan tangan dingin para mahasiswa. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata dalam mendukung kemandirian sektor pariwisata lokal yang selama ini dinilai memiliki potensi besar namun belum tergarap secara maksimal dari sisi branding dan pengelolaan kebersihan.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Jumat pagi tersebut diawali dengan aksi kerja bakti massal. Mahasiswa Kelompok 16 bahu-membahu membersihkan area utama dari tumpukan sampah plastik dan rumput liar yang sempat menutupi akses visual menuju situs utama. Fokus utama dari penataan fisik ini adalah menciptakan kenyamanan dan keasrian bagi pengunjung.

Sebagai upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, mahasiswa UPGRIS juga menyediakan dan memasang tempat sampah permanen di beberapa titik strategis. Langkah ini bertujuan untuk mengedukasi pengunjung agar lebih disiplin dalam membuang sampah, mengingat status Watu Lumpang sebagai situs yang harus dijaga kelestariannya.

Tidak berhenti pada kebersihan, estetika lokasi turut ditingkatkan dengan pemasangan banner identitas bertuliskan “Welcome to Watu Lumpang”. Banner ini didesain secara modern dan menarik guna memberikan identitas visual yang kuat. Selain sebagai penanda lokasi bagi pengunjung baru, banner tersebut juga diproyeksikan sebagai spot foto (Instagrammable) yang menjadi daya tarik tersendiri di era media sosial saat ini.

Zikri selaku penanggung jawab mennyampaikan kekuatan media sosial yang sangat masif, Kelompok 16 memanfaatkan setiap sudut Watu Lumpang sebagai materi konten kreatif. Proses pengambilan gambar dilakukan dengan teknik sinematik, mengambil berbagai sudut (angle) untuk menonjolkan keunikan guratan batu purbakala yang sarat nilai sejarah, dipadukan dengan latar belakang pepohonan hijau yang menyejukkan mata.

“Kami tidak ingin hanya menata fisiknya saja. Setelah tempatnya bersih dan cantik, kami langsung memproduksi konten video dan foto profesional untuk diunggah ke platform TikTok dan Instagram. Target kami adalah Watu Lumpang bisa ‘FYP’ (For Your Page) dan menjadi destinasi hits bagi anak muda yang mencari wisata alam sekaligus sejarah,” ujar Zikri sebagai penangung jawab program kerja.

Inisiatif mahasiswa UPGRIS ini mendapat sambutan hangat dan haru dari Bu Titi, selaku pemilik sekaligus pengelola situs Watu Lumpang. Beliau mengakui bahwa keterbatasan tenaga dan pengetahuan mengenai teknologi selama ini menjadi kendala utama dalam memperkenalkan pesona Watu Lumpang kepada khalayak yang lebih luas.

“Saya sangat berterima kasih dan merasa sangat terbantu dengan kehadiran adik-adik mahasiswa KKN UPGRIS. Selama ini Watu Lumpang mungkin hanya dikenal oleh warga sekitar saja. Tapi sekarang, berkat bantuan mahasiswa, tempat ini jadi jauh lebih bersih dan rapi dilihatnya. Saya juga senang melihat mereka rajin memotret dan memvideo tempat ini dengan bagus. Harapan saya, semoga setelah ini semakin banyak orang yang berkunjung, sehingga situs ini tetap lestari dan bisa membawa manfaat ekonomi bagi warga sini,” ungkap Bu Titi saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Melalui integrasi antara penataan fisik yang berkelanjutan dan promosi digital yang masif, Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 16 berharap Watu Lumpang dapat bertransformasi menjadi destinasi wisata yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi. Ke depannya, situs ini diharapkan tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga tumbuh menjadi pusat edukasi budaya bagi masyarakat umum.

Kolaborasi antara akademisi melalui program KKN dan pemilik lahan seperti Bu Titi adalah kunci utama dalam pelestarian aset daerah. Dengan promosi yang tepat dan pengelolaan lingkungan yang terjaga, situs-situs bersejarah seperti Watu Lumpang tidak akan terlupakan oleh zaman, melainkan tetap eksis di tengah perkembangan teknologi informasi.

 

Editor: Azis

By Jatengx

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *