PERANCANGAN SENSOR PENDETEKSI GEMPA BERBASIS ARDUINO DAN SOSIALISASI PENTINGNYA ALARM GEMPA PADA SDN 02 KATEKAN

Jatengx.com, Klaten – Indonesia terletak di kawasan Ring of Fire yang memiliki aktivitas seismik tinggi, sehingga risiko gempa bumi dapat terjadi sewaktu-waktu. Institusi pendidikan, khususnya Sekolah Dasar (SD), merupakan area vital yang memerlukan perlindungan ekstra. Anak-anak adalah kelompok rentan yang seringkali panik dan belum memahami langkah evakuasi yang benar saat terjadi bencana.

Belum tersedianya sistem peringatan dini (Early Warning System) otomatis di SDN 02 Katekan menjadi perhatian utama tim kami. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat deteksi gempa yang akurat, responsif, dan mudah dipahami oleh warga sekolah, serta dipadukan dengan sosialisasi jalur evakuasi yang tepat.

Dalam kegiatan ini, kami merancang dan merakit alat pendeteksi gempa sederhana namun efektif menggunakan teknologi mikrokontroler. Early Warning System dengan kompunen utama dari Arduino Nano yang menjadi otak pemroses, sensor getar SW-420 untuk mendeteksi gelombang seismik, LCD I2C sebagai penampil status visual, dan Active Buzzer serta LED sebagai alarm audio-visual.

Raditya Jordy A R, menyampaikan alat ini bekerja 24 jam memonitor getaran tanah/dinding. Saat sensor mendeteksi getaran di atas ambang batas normal (gempa), sistem akan memicu alarm suara nyaring dan menampilkan pesan “BAHAYA GEMPA” pada layar LCD.

“Ketika ada getaran yang melebihi batas ambang normal (gempa) sensor tersebut akan memberikan informasi melalui alarm yang nyaring dan pesan “Bahaya Gempa” yang ditampilkan di LCD. Alat tersebut dapat beroperasi selama 24 jam.” Ujarnya

Alat tersebut juga dilengkapi fitur “Latching Alarm”, di mana alarm akan terus berbunyi hingga tombol Reset ditekan secara manual. Fitur ini memastikan peringatan tidak terlewat meskipun gempanya hanya berlangsung singkat.

Kegiatan sosialisasi dilaksanakan (5/2/2025) dengan menggabungkan aspek teknis (pengenalan alat) dan aspek arsitektural (jalur evakuasi). Siswa diperkenalkan dengan teknologi IoT sederhana.

“Kami mendemonstrasikan cara kerja alat dengan simulasi getaran. Saat alat berbunyi, siswa diajarkan untuk merespons suara tersebut sebagai tanda bahaya, bukan mainan.” Tambanya Raditya Jordy A R

Bersama rekan dari jurusan Arsitektur, Raditya Jordy A R mensosialisasikan Peta Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul (Assembly Point). Siswa diberi pengetahuan tentang “Drop, Cover, and Hold On” (Berlutut, Berlindung, dan Berpegangan). Selain itu, juga dilaksanakan praktik saat sirine dari alat Arduino berbunyi, siswa berlatih berlindung di bawah meja untuk melindungi kepala, lalu berjalan tertib menuju titik kumpul yang telah didesain oleh tim Arsitektur.

Antusiasme siswa dan guru SDN 02 Katekan sangat tinggi. Terlihat saat sesi pemaparan materi dan praktik siswa semangat mengikutinya. Siswa kini mengenali bunyi alarm spesifik gempa dan tahu rute mana yang harus diambil untuk keluar kelas dengan aman.

Program ini berhasil mengintegrasikan teknologi sensor Arduino dengan tata ruang mitigasi bencana. Diharapkan alat ini dapat berfungsi optimal sebagai “penjaga” sekolah dan meminimalisir risiko korban jiwa melalui peringatan dini yang cepat.

 

Penulis : Raditya Jordy Anargya Rizki

Editor : Azis

By Jatengx

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *