Mahasiswa PMI IPMAFA Pelajari Praktik Pemberdayaan di Yayasan Sheep Indonesia

Yogyakarta , Jatengx.com – Puluhan mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) menggelar studi kunjungan ke Yayasan Sheep Indonesia (YSI), Jumat, 12 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ruang belajar lapangan bagi mahasiswa untuk melihat langsung praktik pemberdayaan yang dijalankan lembaga tersebut.

Dosen pendamping, Siswanto, mengatakan kunjungan ini dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan model pemberdayaan berbasis komunitas yang selama ini dijalankan YSI. “Mahasiswa perlu melihat dinamika pengorganisasian masyarakat yang tidak sekadar teori. Pengalaman lapangan seperti ini membantu mereka membaca realitas sosial secara lebih utuh,” ujarnya.

Sesi diskusi dipandu fasilitator YSI, Wahyu, yang sejak awal mengajak mahasiswa terlibat dalam percakapan kritis. Ia memantik mereka dengan sejumlah pertanyaan tentang problem sosial, peran fasilitator, hingga strategi menjaga keberlanjutan program.

Dalam diskusi, mahasiswa PMI, Dwi Erza Arasta, menceritakan pengalamannya mengembangkan program pembuatan pupuk organik di pesantren. Program itu sempat berhenti ketika ia harus kembali kuliah. Menanggapi cerita tersebut, Wahyu menekankan pentingnya konsistensi dan pola community organizing dalam pendampingan.

“Fasilitator bukan tukang instruksi,” kata Wahyu. “Tugas kita menumbuhkan kemandirian. Ketika pendamping tidak hadir, komunitas tetap harus bisa bergerak dan mengelola programnya sendiri.”

Wahyu juga memaparkan sejumlah program yang selama ini dijalankan YSI, di antaranya pendampingan masyarakat di kawasan rawan bencana di Aceh dan wilayah pesisir selatan. Melalui program itu, YSI mendorong warga menggali potensi lokal, mengenali masalahnya, dan tidak bergantung pada bantuan pemerintah.

Kunjungan mahasiswa PMI semester 3 tersebut berlangsung interaktif. Para peserta mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana sebuah organisasi pemberdayaan bekerja—mulai dari identifikasi masalah, mengorganisir warga, hingga merancang program berbasis kebutuhan komunitas. Para mahasiswa menutup kegiatan dengan refleksi bersama mengenai tantangan pendampingan di lapangan.

By Jatengx

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *