Jatengx.com, Wonogiri – Program monodisiplin pemetaan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, Salsabila Cahya Ramadhani dari Program Studi Teknik Geodesi UNDIP, di Desa Gemawang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, merupakan upaya pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mendukung pemahaman dan pemantauan kondisi vegetasi desa secara spasial.
NDVI merupakan indeks yang digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kehijauan dan kesehatan vegetasi berdasarkan perbedaan pantulan spektral cahaya merah dan inframerah yang terekam oleh citra satelit. Desa Gemawang yang secara umum masih didominasi oleh penggunaan lahan berupa pertanian, kebun, semak, dan vegetasi alami menjadikan pemetaan NDVI sebagai metode yang relevan untuk menggambarkan kondisi tutupan lahan secara menyeluruh. Melalui pengolahan citra satelit menggunakan Google Earth Engine (GEE), dihasilkan peta NDVI tahun 2022 dan 2024 yang kemudian dianalisis untuk melihat distribusi serta perubahan kerapatan vegetasi di wilayah desa.
Hasil pengolahan NDVI tahun 2022 menunjukkan bahwa tutupan lahan Desa Gemawang didominasi oleh vegetasi rapat hingga sangat rapat, dengan luasan vegetasi rapat mencapai sekitar 423,48 hektare dan vegetasi sangat rapat seluas 354,88 hektare. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada tahun tersebut kerapatan vegetasi di Desa Gemawang masih tergolong baik dan relatif merata. Area dengan vegetasi jarang dan sangat jarang, masing-masing seluas 113,60 hektare dan 38,04 hektare, umumnya tersebar pada lahan terbuka serta kawasan terbangun, sedangkan badan air memiliki luasan paling kecil, yaitu sekitar 4,70 hektare dan mengikuti pola alur sungai. Rentang nilai NDVI yang digunakan pada pemetaan tahun 2022 telah sesuai dengan karakteristik teoritis NDVI, sehingga hasil klasifikasi mampu merepresentasikan kondisi vegetasi secara akurat.
Pada tahun 2024, hasil pemetaan NDVI menunjukkan bahwa vegetasi rapat dan sangat rapat masih mendominasi wilayah Desa Gemawang. Vegetasi sangat rapat tercatat sebagai kelas dengan luasan terbesar, yaitu sekitar 454,50 hektare, diikuti oleh vegetasi rapat seluas 311,35 hektare. Meskipun secara umum kondisi vegetasi masih tergolong baik, jika dibandingkan dengan hasil tahun 2022 terlihat adanya peningkatan luasan vegetasi jarang dan sangat jarang, khususnya di bagian tengah dan utara wilayah desa. Vegetasi jarang pada tahun 2024 memiliki luasan sekitar 138,74 hektare, sedangkan vegetasi sangat jarang seluas 26,63 hektare, yang umumnya berkaitan dengan aktivitas lahan terbuka dan area terbangun. Luasan badan air relatif stabil, meskipun pada beberapa bagian menunjukkan adanya penyempitan yang mengikuti dinamika alur sungai. Rentang nilai NDVI yang digunakan pada tahun 2024 juga telah memenuhi standar interpretasi NDVI, sehingga perbandingan antar tahun dapat dilakukan secara konsisten.
Perbandingan hasil NDVI tahun 2022 dan 2024 menunjukkan adanya perubahan pola kerapatan vegetasi di Desa Gemawang. Pada tahun 2022, wilayah selatan desa masih didominasi oleh vegetasi rapat hingga sangat rapat yang ditunjukkan oleh warna hijau muda hingga hijau tua, sedangkan area dengan vegetasi jarang lebih banyak ditemukan di bagian tengah dan utara. Namun, pada tahun 2024, area dengan vegetasi jarang dan sangat jarang tampak mengalami peningkatan, terutama di wilayah tengah dan utara desa, sementara luasan vegetasi rapat dan sangat rapat terlihat sedikit berkurang. Meskipun perubahan tersebut tidak bersifat ekstrem, kondisi ini menunjukkan adanya dinamika tutupan lahan yang perlu mendapat perhatian melalui pemantauan secara berkelanjutan.
Perubahan nilai dan distribusi NDVI antara tahun 2022 dan 2024 tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia. Salah satu faktor utama adalah dinamika penggunaan lahan pertanian, seperti perubahan pola tanam, masa panen, serta kondisi lahan bera yang menyebabkan berkurangnya tutupan vegetasi hijau secara sementara. Pada periode tertentu, lahan pertanian yang tidak sedang ditanami atau baru saja dipanen akan menunjukkan nilai NDVI yang lebih rendah sehingga terklasifikasi sebagai vegetasi jarang atau sangat jarang pada citra satelit. Selain itu, faktor musiman dan kondisi iklim juga berperan penting, di mana perbedaan waktu perekaman citra satelit memungkinkan terjadinya variasi kelembapan tanah dan tingkat pertumbuhan tanaman. Pada musim kemarau atau saat curah hujan relatif rendah, vegetasi cenderung mengalami stres air yang berdampak pada penurunan nilai NDVI.
Faktor lain yang turut memengaruhi perubahan NDVI adalah perkembangan aktivitas permukiman dan infrastruktur desa. Meskipun tidak bersifat masif, pembukaan lahan untuk permukiman, akses jalan, dan fasilitas penunjang aktivitas masyarakat berpotensi mengurangi tutupan vegetasi di beberapa lokasi, khususnya di bagian tengah dan utara wilayah desa. Area-area tersebut pada peta NDVI tahun 2024 cenderung menunjukkan peningkatan kelas vegetasi jarang dibandingkan tahun 2022, sementara luasan badan air yang relatif stabil mengindikasikan bahwa perubahan NDVI lebih dominan dipengaruhi oleh perubahan tutupan vegetasi dibandingkan unsur perairan.
Secara keseluruhan, perbedaan hasil NDVI antara tahun 2022 dan 2024 mencerminkan dinamika alami serta aktivitas manusia yang memengaruhi kondisi vegetasi Desa Gemawang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, pemetaan NDVI secara berkala menjadi penting sebagai alat pemantauan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi lahan sejak dini. Informasi spasial ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi pengelolaan lahan pertanian, perencanaan pembangunan desa, serta upaya menjaga keseimbangan lingkungan agar tutupan vegetasi di Desa Gemawang tetap terjaga secara berkelanjutan.
Penulis: Salsabila Cahya Ramadhani
Editor: Azis



