
Jatengx.com, Demak – Aroma khas dupa yang menguar dari klenteng-klenteng di kawasan Semarang, sebagian besar berasal dari tangan seorang perajin asal Desa Waru bernama Bapak Ndhori. Sudah lebih dari 10 tahun ia menekuni usaha ini, bukan semata untuk mencari nafkah, melainkan sebagai bentuk pelestarian budaya yang menurutnya kini mulai jarang dijumpai di generasi muda.
Peristiwa tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Desa Waru pada Jumat (28/8/2026), sebagai bagian dari pemetaan potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Ditemui di lokasi produksinya, Bapak Ndhori mengaku bahwa alasannya bertahan di usaha ini bukan semata soal keuntungan.
“Saya memilih usaha dupa ini karena ingin ikut melestarikan budaya. Buat saya, dupa itu bukan cuma barang dagangan, tapi bagian dari tradisi yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Dalam menjalankan usahanya, Bapak Ndhori dibantu oleh beberapa karyawan dengan sistem produksi yang fleksibel, sehingga dapat menyesuaikan volume produksi dengan permintaan pasar.
Proses pembuatan dupa di tempat Bapak Ndhori tergolong sederhana namun tetap membutuhkan ketelitian. Bahan utama yang digunakan meliputi serbuk tepung, air, lem, bambu sebagai batang dupa, dan parfum sebagai pemberi aroma.
Setelah dicetak, dupa dikeringkan secara alami selama satu hari penuh sebelum siap dipasarkan. Dengan proses tersebut, usaha ini mampu memproduksi hingga 800 batang dupa per hari, jumlah yang tergolong tinggi untuk skala usaha rumahan di sebuah desa.
Produk dupa Bapak Ndhori selama ini dipasarkan ke berbagai klenteng di area Semarang, dengan harga jual Rp30.000 per kemasan berisi 50 batang. Namun di tengah pesatnya perkembangan e-commerce, usaha ini belum mampu memanfaatkan pasar digital secara maksimal.
“Kendalanya di online. Saya sudah coba, tapi belum berhasil bikin akun untuk jualan di platform digital,” katanya.
Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang umum dihadapi pelaku UMKM di pedesaan dalam beradaptasi dengan transformasi digital.
Meski menghadapi tantangan pemasaran, usaha dupa Bapak Ndhori memiliki catatan prestasi yang cukup membanggakan.
Ia mengaku usahanya pernah tercatat dalam Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Selain itu, pada tahun 2002, ia juga pernah mengikuti kejuaraan di kawasan Klenteng Pecinan dengan membuat dupa raksasa setinggi 3 meter.
Di antara berbagai jenis dupa yang diproduksi, dupa daharu menjadi produk paling laris. Bahan bakunya didatangkan langsung dari Kalimantan, mengingat pohon daharu memang tumbuh di wilayah Kalimantan dan Papua.
Menurut Bapak Ndhori, selain aromanya yang khas, dupa daharu juga dipercaya secara turun-temurun memiliki manfaat kesehatan, salah satunya membantu mencegah sel kanker otak. (Perlu dicatat, klaim manfaat kesehatan ini merupakan kepercayaan masyarakat dan belum didukung bukti ilmiah/klinis yang teruji.
Bapak Ndhori juga menyebutkan bahwa pendiri usaha dupa terbesar di Indonesia disebut-sebut berasal dari Surabaya, yang menurutnya menjadi bukti bahwa industri dupa merupakan warisan usaha yang terus hidup di berbagai daerah, termasuk di Desa Waru.
Menanggapi hasil survei tersebut, Koordinator Desa KKN UPGRIS Desa Waru, Isfadhil Kholifatul Anwar Lutfi Toha, menilai usaha dupa Bapak Ndhori memiliki potensi besar yang sayangnya belum tergarap optimal.
“Usaha dupa milik Bapak Ndhori ini sebenarnya punya potensi yang sangat besar, baik dari sisi nilai budaya maupun ekonomi bagi masyarakat Desa Waru. Sayangnya, kendala pemasaran online membuat produk ini belum bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Isfadhil.
Ia menambahkan, tim KKN berencana memberikan pendampingan seputar pemasaran digital agar produk dupa Desa Waru, khususnya dupa daharu, dapat lebih dikenal luas dan dipasarkan secara online.
“Kami berharap melalui program KKN ini, mahasiswa bisa membantu memberikan pendampingan digital marketing agar dupa Desa Waru bisa lebih dikenal masyarakat luas dan dijual secara online,” tutupnya.
Dengan adanya program pendampingan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar.
Penulis : Tim Publikasi KKN UPGRIS 36 Desa Waru
Editor: Azis



