Mahasiswa KKN UMP menghadirkan sebuah alternatif melalui pembuatan insinerator minim asap di Desa Toyareka
Jatengx.com, Purbalingga – Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Kelompok 109 selama melaksanakan pengabdian di Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.
Melihat kondisi pengelolaan sampah di lingkungan desa, mahasiswa KKN UMP menghadirkan sebuah alternatif melalui pembuatan insinerator minim asap yang diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah di Desa Toyareka.
Program tersebut direalisasikan pada 18 Agustus 2026 di Dusun 1 Desa Toyareka. Pembuatan insinerator menjadi salah satu program unggulan kelompok yang dirancang tidak hanya menghasilkan sebuah alat, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pihak desa.
Melihat Kondisi Sampah di Lapangan
Sebelum pembangunan dilakukan, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan survei terhadap lokasi yang dinilai strategis untuk pembangunan insinerator.

Survei dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebutuhan pengelolaan sampah di sekitar lokasi. Kondisi lapangan yang menunjukkan adanya tumpukan sampah menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa dalam menentukan lokasi pembangunan alat.
Dari hasil survei tersebut, mahasiswa kemudian berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk membahas rencana pembangunan insinerator, termasuk lokasi dan proses pembuatannya.
Libatkan Pemerintah Desa dalam Proses Pembuatan
Pembangunan insinerator dilakukan menggunakan batako hebel sebagai bahan utama. Dalam prosesnya, mahasiswa KKN turut melibatkan pihak desa melalui diskusi mengenai pembuatan dan pemanfaatan alat.

Kepala Desa Toyareka bersama seluruh perangkat desa hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pemerintah desa sekaligus menjadi bagian dari proses diskusi agar alat yang dibuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan sampah di lingkungan setempat.
Pembuatan insinerator tersebut merupakan bentuk upaya mahasiswa untuk menghadirkan solusi sederhana yang dapat digunakan dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah yang dapat dibakar.
Dalam rancangan program KKN, insinerator dibuat dengan sistem pembakaran yang lebih efisien sehingga diharapkan menghasilkan asap lebih sedikit dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka. Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan desa.
Uji Coba Menunjukkan Pembakaran dengan Asap Minim
Setelah proses pembangunan selesai, mahasiswa melakukan uji coba terhadap insinerator untuk memastikan alat dapat berfungsi sebagaimana tujuan pembuatannya.

asil uji coba menunjukkan bahwa insinerator dapat digunakan untuk membakar sampah dengan asap yang minim.
Uji coba tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan program. Selain memastikan fungsi alat, proses ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengetahui apakah insinerator dapat digunakan sebagai alternatif pembakaran sampah dibandingkan pembakaran secara terbuka.
Program pembuatan insinerator sendiri dirancang melalui tahapan demonstrasi, pembuatan alat, pendampingan penggunaan, diskusi, hingga pemanfaatan dan perawatan alat oleh pihak yang ditunjuk.
Diserahkan untuk Mendukung Pengelolaan Sampah Desa
Setelah melalui proses pembangunan dan uji coba, insinerator tersebut kemudian diserahkan kepada Desa Toyareka agar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan sampah.
Alat tersebut diterima oleh Bapak Parlan selaku petugas kebersihan setempat.
Penyerahan ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan program KKN. Dengan diserahkannya alat kepada pihak yang menangani kebersihan, insinerator diharapkan tidak hanya menjadi hasil kegiatan mahasiswa selama berada di desa, tetapi dapat terus dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir.

Program Insinerator Minim Asap merupakan salah satu dari empat program unggulan KKN Kelompok 109 di Desa Toyareka. Selain program pengelolaan sampah, kelompok tersebut juga menjalankan Digitalisasi Lapak UMKM Desa Toyareka, UMKM Mapping Desa Toyareka, dan Level Up Board sebagai media edukasi.
Kehadiran program insinerator diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi Desa Toyareka dalam mengelola sampah secara lebih terarah. Mahasiswa juga berharap alat yang telah diserahkan dapat dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan oleh pihak desa.
Bagi mahasiswa KKN UMP Kelompok 109, program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata selama melaksanakan pengabdian di tengah masyarakat. Ifan Nur Firmansah, mahasiswa Fakultas Teknik dan Sains UMP sekaligus penanggung jawab program, terlibat dalam pelaksanaan pembuatan insinerator minim asap tersebut.
Melalui program sederhana tersebut, mahasiswa berupaya mengubah persoalan yang ditemui di lapangan menjadi sebuah solusi yang dapat ditinggalkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Toyareka.
Editor: Azis



