Jatengx.com, Semarang – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menyatukan tiga agenda strategis pendidikan dalam satu forum terpadu. Selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, LP Ma’arif NU Jateng menggelar Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, pendampingan Bahasa Inggris berstandar internasional Pearson, serta penyelesaian modul pendidikan inklusi di Hotel Muria, Semarang.
Forum ini dirancang sebagai langkah konsolidasi kebijakan pendidikan Ma’arif di tengah tuntutan perubahan sistem pembelajaran. Wakil Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Hidayatun, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan penguatan arah dan standar mutu pendidikan Ma’arif.
“Pendidikan inklusi kini bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi arus utama di lingkungan LP Ma’arif. Karena itu, modul inklusi harus dituntaskan agar implementasinya seragam di seluruh satuan pendidikan,” kata Hidayatun dalam sambutannya.
Selain inklusi, LP Ma’arif NU Jateng juga menaruh perhatian pada penguatan kompetensi Bahasa Inggris guru. Melalui pendampingan Pearson, Ma’arif menargetkan kemampuan Bahasa Inggris sekolah-sekolah di bawah naungannya mendekati standar internasional.
“Realitasnya, di jenjang pendidikan menengah hingga akses beasiswa, Bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan dasar. Sekolah Ma’arif tidak boleh tertinggal,” ujar Hidayatun.
Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah, Dr. Ghufron Hamzah, S.Th.I., M.S.I., menempatkan kurikulum berbasis cinta sebagai fondasi ideologis dari seluruh agenda tersebut. Ia menegaskan, konsep tersebut bukan gagasan baru, melainkan berakar pada pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, yang tertuang dalam Qanun Asasi.
“Basis cinta dalam pendidikan itu warisan kiai Hasyim Asy’ari. Ia menjadi landasan untuk membangun pendidikan yang manusiawi, bukan semata-mata teknokratis,” kata Ghufron.
Menurut dia, penguatan Bahasa Inggris di lingkungan Ma’arif sejatinya telah lama dipersiapkan, bahkan sejak pendidikan dasar. Program peningkatan kapasitas guru, termasuk melalui penguatan di Kampung Inggris Pare, disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Ghufron menilai pendekatan berbasis cinta dapat meredam resistensi terhadap perubahan kurikulum. “Dari yang semula alergi, menjadi cinta. Dari keterpaksaan, menjadi kesadaran,” ujarnya.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan berdampak langsung pada kualitas lulusan. “Tujuannya jelas: melahirkan peserta didik yang kompeten, berkarakter, dan mampu bersaing,” kata Ghufron.
Kegiatan ini diikuti 44 peserta, terdiri atas guru dan pengelola satuan pendidikan Ma’arif dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

